Saturday, July 9, 2016

Menjadi Orang Baik


Orang baik itu peduli dan tak akan pernah menyakiti, kalaupun terpaksa menyakiti maka dia akan berusaha untuk memperbaiki kembali. Setiap kita tidak pernah luput dari berbuat salah, meskipun sejatinya kita selalu ingin menjadi pribadi yang baik, pribadi yang menyenangkan dan bisa membuat orang lain bangga pada diri kita. Tapi yah namanya manusia, kadang emosi dan egoisme lebih menonjol ketimbang kemampuan mengendalikan diri, sehingga acap kali meski kita ingin menjadi orang baik tetap saja kita berbuat yang menyakitkan hati orang lain.

Pernah ada seorang gadis yang begitu baik, cantik, cerdas dan dimana-mana ia selalu menebarkan motivasi serta semangat untuk senantiasa berbuat baik bagi sesama. Nah, suatu hari datanglah seorang pemuda yang selama ini selalu akrab dengannya untuk menyatakan sebuah lamaran, pemuda ini ingin menikahi gadis tersebut, hanya saja latar belakangnya tidak terlalu bagus karena ia memiliki masa lalu yang cukup kelam. Ia adalah pemuda yang awut-awutan hidupnya dan suka melakukan hal-hal diluar kewajaran sebagai manusia, sehingga banyak orang memberi cap aneh. Tak banyak orang yang suka dengannya, meski beberapa waktu terakhir ia berusaha kembali menjadi pribadi normal.

Mengetahui ia dilamar oleh pemuda yang selama ini ia motivasi pula, gadis ini tak memberi jawaban langsung dan minta tempo untuk berpikir dulu. Beberapa hari si gadis berpikir keras bagaimana jawaban terbaik yang harus ia berikan, sebab ia tak mencintai pemuda ini tapi di lain sisi ia tak ingin mengecewakan pemuda tersebut, sehingga ia akan dianggap sebagai pribadi yang tak baik.

Setelah beberapa waktu, akhirnya gadis memberi jawaban menerima. Alangkah bahagianya pemuda tadi, hingga saking bahagianya ia langsung bertanya..kapan kita menikah? Si gadis menjawab “Maaf ya, sahabat. Saya menerima lamaranmu namun aku tak tahu kapan kita menikah, karena semua keputusan aku serahkan kepada mamaku, selain itu aku juga membuka lamaran untuk pria-pria yang lain. Intinya maksudku menerimamu ini adalah untuk melihat apakah kamu baik untuk aku atau tidak. Maaf ya” Ucap si gadis, disambut senyum kecut sang pemuda.

Kisah seperti diatas banyak kita jumpai, bahkan mungkin kita alami sendiri. Dimana kebaikan kadang tak bisa kita beri dengan tulus saat emosi dan ego juga bermain disitu. Pada umumnya kebaikan manusia adalah kebaikan yang bersumber dari hasrat emosi dan egoisme, sehingga sangat subjektif sekali dan mudah berubah apabila tak sesuai dengan hasrat diri tadi.


Orang baik tak ingin mengecewakan orang lain, kalaupun ia terpaksa mengecewakan maka ia akan berusaha untuk memperbaikinya. Dari kisah diatas, alangkah baiknya bila si gadis jujur apa adanya, dari pada memberi harapan namun kemudian menggantung harapan si pemuda. Ia bisa jujur bahwa maaf tidak bisa menerima lamaran pemuda tersebut, dan sebagai ganti maka si gadis akan berusaha membantu pemuda ini untuk mencarikan gadis yang terbaik untuknya.

Dengan jawaban model ini maka luka yang ditimbulkan tak akan lebih pedih dari jawaban yang pertama, selain itu dengan jawaban model ini ada kemungkinan bahwa keduanya akan semakin akrab dan saling kenal satu sama lain dengan lebih baik. Siapa tahu dari situ kemudian si gadis akan tahu bahwa pria tersebut sangat baik untuknya, atau sebaliknya si pemuda juga mengerti bahwa gadis yang ia cintai ternyata tak sebaik perkiraannya. Untuk membangun sebuah kebaikan itu perlu proses,dan proses itu butuh waktu.